Bismillah.
Diantara amal yang tidak terputus setelah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat. Hal ini mengandung faidah tentang besarnya keutamaan ilmu.
Banyak yang tidak sadar bahwa setiap saat manusia butuh kepada ilmu. Buktinya masih banyak orang yang meremehkan upaya menimba ilmu agama. Berbeda dengan harta, semua orang seolah bersepakat tentang betapa pentingnya harta.
Padahal, ilmu bisa menjaga kita dari kesalahan dan penyimpangan. Sebaliknya, harta kita lah yang musti menjaganya. Bahkan banyak orang rela menjual agama demi mencaplok harta.
Begitu pula dengan makanan dan minuman. Seakan semua orang sepakat tentang urgennya makan dan minum bagi manusia. Adapun urusan ilmu agama seperti bukan suatu prioritas dalam hidup mereka.
Ini adalah gambaran kondisi nyata yang menimpa banyak kalangan. Kalau dicermati sebenarnya kebutuhan kepada ilmu itu jauh lebih besar daripada kebutuhan kepada harta, makanan, atau minuman.
Bukankah setiap sholat kita berdoa kepada Allah agar diberi hidayah? Bukankah ilmu adalah bagian dari hidayah? Hal ini menandakan butuhnya kita kepada hidayah dan ilmu.
Imam Ahmad berkata, “Manusia butuh kepada ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu agama niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Setiap saat kita butuh ilmu dan taufik dari Allah untuk bisa melakukan apa yang dicintai Allah dan meninggalkan apa yang dibenci-Nya. Kita butuh ilmu untuk membedakan yang haq dengan yang batil, yang halal dengan yang haram, yang bermanfaat dengan yang berbahaya. Kita lahir dalam keadaan bodoh, tanpa ilmu kita tidak bisa menegakkan keadilan. Dan tanpa ilmu orang akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki keadaan.








Tinggalkan komentar