Bismillah.
Diantara pelajaran berharga yang diberikan oleh para ulama kepada kita adalah betapa pentingnya menanamkan aqidah dan dasar-dasar Islam kepada umat manusia. Sebab inilah pondasi utama dan landasan tegaknya bangunan agama.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)
Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami mengutus seorang pun rasul sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku.” (al-Anbiya’ : 25)
Tauhid inilah pokok utama dalam perbaikan umat. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam periode Mekkah selama kurang lebih 13 tahun berdakwah. Tauhid menjadi prioritas utama dalam dakwah beliau. Hakikat tauhid adalah beribadah kepada Allah dan menjauhi syirik.
Tauhid adalah kandungan dari rukun Islam yang pertama; laa ilaha illallah dan sekaligus kandungan dari rukun iman yang pertama; yaitu iman kepada Allah. Tauhid inilah tujuan penciptaan segenap jin dan manusia. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘beribadah kepada-Ku’ adalah mentauhidkan Allah.
Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa setiap perintah ibadah di dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Artinya, ibadah kepada Allah -apa pun bentuknya- harus disertai dengan tauhid. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; Jika kamu berbuat syirik pasti lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam beberapa risalah dan kitabnya telah membawakan ayat-ayat dan hadits-hadits yang sangat jelas tentang pentingnya tauhid dan keutamaan tauhid bagi setiap hamba. Diantaranya, di dalam Ushul Tsalatsah, beliau menjelaskan bahwa perkara paling besar yang diperintahkan oleh Allah adalah tauhid; yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Adapun dalilnya firman Allah (yang artinya), “Dan beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36)
Di dalam Kitab Tauhid, beliau juga membawakan dalil tentang urgensi dan hakikat tauhid; bahwa tauhid adalah syariat paling utama di dalam Islam dan kewajiban yang paling wajib. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Rabbmu telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan kepada kedua orang tua hendaklah kalian berbuat baik…” (al-Israa’ : 23)
Di dalam risalah Ushul Tsalatsah beliau juga menjelaskan bahwa Allah tidak ridha apabila dipersekutukan dengan-Nya dalam hal ibadah; apakah itu dengan malaikat yang dekat dengan Allah ataupun dengan seorang nabi yang diutus. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/berdoa bersama dengan Allah siapa pun.” (al-Jin : 18)
Dari sinilah, para ulama juga telah memaparkan kepada kita tentang hakikat ibadah kepada Allah dan porosnya. Bahwa ibadah secara bahasa bermakna merendahkan diri dan tunduk. Adapun secara syar’i yang dimaksud ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana syariat yang telah diajarkan oleh rasul-Nya. Demikian itu definisi ibadah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Ushul Tsalatsah.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pun telah menjelaskan bahwa ibadah kepada Allah berporos pada dua hal; puncak perendahan dan puncak kecintaan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa ibadah mencakup segala hal yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya berupa ucapan dan perbuatan; yang batin maupun yang lahir. Demikian keterangan beliau dalam kitabnya al-’Ubudiyah.
Segala bentuk ibadah butuh pada keikhlasan. Oleh sebab itu para ulama dari masa ke masa mengingatkan tentang pentingnya ikhlas dalam seluruh amalan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif/bertauhid…” (al-Bayyinah : 5)
Imam Bukhari rahimahullah dalam Sahih-nya mengawali hadits-haditsnya dengan hadits innamal a’maalu bin niyaat; Sesungguhnya seluruh amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Begitu pula Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhus Sholihin. Langkah serupa juga dilakukan oleh Imam Abdul Ghoni al-Maqdisi rahimahullah dalam Umdatul Ahkam.
Abdullah Ibnul Mubarok rahimahullah berkata, “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya. Dan betapa banyak amal besar menjadi kecil juga karena niatnya.” Atsar ini disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hambali dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam.
Ikhlas inilah kandungan dari kalimat iyyaka na’budu; hanya kepada-Mu Ya Allah, kami beribadah. Ikhlas ini pula kandungan dari kalimat tauhid laa ilaha illallah. Oleh sebab itu kalimat tauhid disebut juga dengan kalimatul ikhlas. Ibadah merupakan hak Allah atas segenap hamba. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Barangsiapa mempersembahkan ibadah kepada selain Allah maka dia telah berbuat kezaliman yang sangat besar.
Oleh sebab itulah Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid telah membawakan hadits Mu’adz bin Jabal yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan bentuk keadilan yang paling tinggi. Tauhid inilah hak Allah atas hamba. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu)
Yogyakarta, 8 Rajab 1446 H di Markas YPIA







Tinggalkan komentar