Bismillah.
Diantara nikmat agung yang wajib untuk kita jaga adalah keberadaan dakwah tauhid di tengah umat manusia. Sebab tauhid adalah tujuan penciptaan dan misi utama dakwah para rasul. Tauhid inilah muatan pokok seluruh kitab suci yang Allah turunkan.
Diantara keajaiban takdir Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah Allah ciptakan orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk dakwah tauhid. Ada diantara mereka yang mengorbankan harta, waktu, tenaga, pikiran, dan kedudukan. Dengan dakwah tauhid inilah manusia akan terlepas dari kegelapan menuju cahaya.
Tauhid kepada Allah adalah kebutuhan setiap hamba untuk bisa meraih kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan yang bersemayam di dalam hati. Seperti yang diungkapkan oleh para ulama terdahulu, “Seandainya para raja dan putra-putra mahkota mengetahui kenikmatan yang kami rasakan -dengan ilmu, hidayah dan iman- niscaya mereka akan berusaha merampasnya dari kami dengan pedang-pedang mereka…”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin; semua keadaannya mendatangkan kebaikan untuknya. Dan hal itu tidak diperoleh kecuali oleh orang beriman. Apabila dia mendapat kesenangan dia pun bersyukur. Apabila dia mengalami kesulitan maka dia bersabar.” (HR. Muslim)
Inilah buah dari mengenal Allah. Seperti yang dilukiskan oleh Malik bin Dinar rahimahullah, “Para pemuja dunia telah keluar dari dunia dalam keadaan tidak merasakan sesuatu yang terbaik di dalamnya.” Orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu yang terbaik di sana?” beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.” Orang yang mengenal Allah maka dia akan bersyukur atas nikmat dan bersabar dalam menghadapi musibah dan kesulitan.
Diantara bentuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan mentauhidkan-Nya -dan ini adalah pokok utama syukur- dan mendakwahkannya. Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah mengatakan, “Janganlah kamu hidup di dunia ini kecuali untuk bertauhid atau mendakwahkan tauhid.”
Dakwah tauhid merupakan jalan hidup pengikut rasul. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/hujjah yang nyata, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…” (Yusuf : 108). Dakwah tidak bisa tegak tanpa ilmu dan kesabaran. Dakwah tidak akan diterima tanpa keikhlasan dan ittiba’.
Ikhlas adalah kandungan dari syahadat laa ilaha illallah, sedangkan ittiba’/mengikuti tuntunan adalah kandungan dari syahadat Muhammad rasulullah. Dakwah harus dijaga dari segala hal yang merusak keikhlasan dan ittiba’. Oleh sebab itu dibutuhkan mujahadah/perjuangan untuk menundukkan hawa nafsu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berjihad adalah yang berjuang menundukkan dirinya untuk taat kepada Allah.” (HR. Ahmad). Ketaatan kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.
Diantara bentuk perjuangan adalah sabar dalam dakwah. Inilah yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Terkadang seorang harus mengeluarkan hartanya untuk membela dakwah ini. Jika dia mengetahui besarnya keutamaan membantu dakwah ini maka dia akan bersemangat membela agama sebagaimana semangat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah.
Kita tidak butuh terlalu banyak teori tanpa ada aksi. Kita sudah tahu besarnya keutamaan membantu dakwah dengan harta, tetapi betapa banyak orang yang dijajah oleh sifat pelit dan rakus kepada dunia. Mereka seperti orang-orang munafik yang mengatakan bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah tipuan belaka.
Nah, kini terbuka kesempatan bagi saudara-saudaraku para dermawan pecinta dakwah tauhid dimana pun berada untuk membantu mega proyek kebaikan dakwah Sunnah bersama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA) :







Tinggalkan komentar