Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.
Memahami agama Islam adalah kunci meraih kebahagiaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap manusia tentu mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi sayang, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Karena kebahagiaan yang hakiki hanya ada bersama Islam. Allah berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran : 85)
Betapa banyak manusia di muka bumi ini yang telah Allah berikan nikmat dan rezeki sepanjang hari. Akan tetapi sedikit diantara mereka yang pandai mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Syukur itu merupakan bentuk pengakuan kepada Allah akan curahan nikmat-Nya kepada hamba, memuji Allah dengan lisan dan menggunakan nikmat dalam hal ketaatan. Maka mereka yang benar-benar bersyukur kepada Allah adalah orang yang beribadah kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)
Bagaimana seorang insan menyembah kepada selain Allah; padahal hanya Allah yang menciptakan dirinya dan memberikan rezeki kepadanya. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21)
Kedudukan Aqidah di dalam Islam
Aqidah adalah apa-apa yang diyakini oleh seorang manusia di dalam hatinya. Apabila seorang memiliki aqidah yang benar maka hal itu akan tercermin dalam ucapan dan perbuatannya. Ia akan meyakini keberadaan Allah, keesaan-Nya dalam hal rububiyah, nama dan sifat serta hak untuk disembah. Oleh sebab itu orang yang beraqidah lurus akan menjauhi segala bentuk syirik dan penghambaan kepada selain Allah. Karena syirik akan menghancurkan amal kebaikan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; apabila kamu berbuat syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya untuk memprioritaskan dakwah kepada aqidah. Karena aqidah merupakan pondasi tegaknya agama dan syarat diterimanya amal salih. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)
Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka ialah supaya mereka mentauhidkan Allah.” dalam riwayat lain dikatakan, “supaya mereka mengucapkan syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka kedudukan aqidah di dalam Islam seperti pondasi bagi sebuah bangunan dan akar dari sebatang pohon. Tidak akan kokoh sebuah bangunan tanpa pondasi dan tidak akan tumbuh kuat sebatang pohon tanpa akar. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak diutus menjadi rasul menyerukan dakwah tauhid kepada penduduk Mekkah selama 13 tahun lamanya dan terus memperingatkan dari bahaya syirik pada saat sudah berhijrah ke Madinah. Dan demikianlah keadaan dakwah para rasul; mereka senantiasa mendahulukan dan mengutamakan dakwah kepada aqidah tauhid. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)
Cakupan Aqidah Islam
Aqidah Islam mencakup enam rukun iman; iman kepada Allah, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir. Inilah enam pokok aqidah yang telah disebutkan dalam ‘hadits Jibril’ yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir; yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)
Iman kepada Allah merupakan pokok dari semua rukun iman. Iman kepada Allah mengandung kewajiban untuk meyakini keberadaan Allah, dan bahwasanya Allah itu satu-satunya pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta, dan bahwa Allah pemilik berbagai nama dan sifat yang mahasempurna, dan Allah semata yang berhak meneriman peribadatan.
Ringkasnya, iman kepada Allah adalah dengan mentauhidkan-Nya. Menujukan ibadah kepada Allah semata, dan meninggalkan segala bentuk sesembahan selain-Nya. Inilah pokok ajaran seluruh nabi dan rasul ’alaihimush sholatu was salam. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (al-Anbiya’ : 25)
Tauhid kepada Allah tercermin dalam kalimat laa ilaha illallah; yang artinya ‘tidak ada yang berhak disembah selain Allah’. Dalam ungkapan ‘laa ilaha’ terkandung penolakan kepada segala sesembahan selain Allah, sedangkan dalam ‘illallah’ terkandung penetapan bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Rabbmu telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya.” (al-Israa’ : 23)
Oleh sebab itu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaum musyrikin untuk mengucapkan laa ilaha illallah mereka pun menolaknya. Mereka berkata (yang artinya), “Apakah dia -Muhammad- itu menjadikan banyak sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja. Sungguh ini adalah perkara yang sangat mengherankan.” (Shad : 5)
Allah tidak ridha dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah siapa pun; apakah itu malaikat atau nabi atau wali. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/beribadah bersama dengan Allah siapa pun.” (al-Jin : 18)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh sebab itu barangsiapa yang melakukan syirik; yaitu menujukan ibadah kepada selain Allah di samping ibadahnya kepada Allah sungguh dia telah melakukan sebuah kezaliman yang sangat besar! Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (Luqman : 13)
Syirik merupakan sebab kehinaan dan kesengsaraan. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (al-Ma-idah : 72)
Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni apa-apa yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisaa’ : 48). Syirik menyebabkan amal kebaikan sirna. Allah berfirman (yang artinya), “Seandainya mereka melakukan syirik pasti akan lenyap dari mereka semua amal yang dahulu pernah mereka kerjakan.” (al-An’am : 88)








Tinggalkan komentar