Gedibal Pitulikur

Gedibal Pitulikur

Bismillah.

Istilah gedibal pitulikur dalam bahasa Jawa bermakna kedudukan sebagai orang yang miskin/mlarat yang hanya menjadi kuli/pesuruh, orang rendahan alias bukan pejabat ataupun bagian dari kaum ningrat.

Apabila kita mau menyadari betapa butuhnya kita kepada Allah YangMaha Kaya maka kita akan meyakini dengan sepenuhnya betapa fakirnya kita di hadapan Allah. Oleh sebab itu Allah menyebut kita sebagai hamba-Nya. Tiada kemuliaan bagi kita kecuali dengan patuh dan tunduk mengabdi kepada-Nya.

Manusia paling mulia di muka bumi ini yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula rasul sebelumnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam pun mendapatkan gelar dan sebutan indah sebagai hamba Allah dan utusan-Nya.

Apabila kita kembali menilik ke dalam diri ini. Kita akan mengerti bahwa kita banyak melakukan kesalahan dan kekeliruan di hadapan Allah. Terlalu banyak nikmat Allah yang tidak kita syukuri dengan baik. Nikmat dari Allah senantiasa tercurah sementara kita terus saja bergelimang dalam maksiat dan dosa.

Apabila Allah tidak menutupi aib-aib kita niscaya kita sudah terkucil dari pergaulan dan dijauhi oleh manusia; karena melihat aib-aib kita yang begitu banyak. Tidakkah kita ingat perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah, “Seandainya dosa-dosa itu memiliki bau busuk, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk bersamaku.”

Seringkali kita lupa bahwa kebaikan yang kita peroleh itu murni pemberian dan anugerah dari Allah kepada kita. Bukan karena kehebatan, kecerdasan, keahlian dan kemampuan kita dalam mengatur strategi dan memimpin institusi. Tidakkah anda ingat kepongahan Qarun di hadapan Allah, “Sesungguhnya aku mendapatkan segala kekayaan ini atas ilmu/kemampuan yang aku miliki.”

Betapa jauh akhlak Qarun dibandingkan dengan keteladanan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang memuji Allah atas segala kejayaan yang beliau raih. Beliau dengan penuh rendah hati berkata, “Ini adalah dari karunia Rabbku; dalam rangka menguji diriku apakah aku akan bersyukur ataukah aku justru kufur.”

Kita semua butuh pertolongan Allah untuk bisa mensyukuri nikmat dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya dalam keadaan susah dan senang. Inilah yang selalu diingatkan dalam untaian doa sayyidul istighfar ‘Allahumma anta Robbi wa ana ‘abduka’; “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu.”

Wahai Rabbku, ampunilah hamba-Mu ini… Yaa Ghafuur Yaa Rahiim

Markas YPIA, 20 Jumada Tsaniyah 1446 H / 22 Desember 2024

Tinggalkan komentar

Yuk Belajar Bareng…

Selamat berkunjung di blog sederhana ini. Sekedar sarana untuk berbagi catatan dan mengembangkan kreatifitas. Mungkin berguna untuk teman-teman yang ingin mencari inspirasi atau menggali motivasi hidup. Selamat membaca…

Barakallahu fiikum

Let’s connect

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai